Pembangkit Listrik Tenaga Surya, Pemanfaatan Matahari sebagai Sumber Listrik


Pembangkit Listrik Tenaga Surya – Listrik merupakan salah satu sumber kehidupan  yang  tidak dapat dilepaskan dari keseharian manusia. Bagaimana yang  telah diketahui, bahwa hampir seluruh peralatan yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari tergantung pada adanya listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya, Pemanfaatan Matahari sebagai Sumber Listrik

Adapun penggunaan listrik pada umumnya tidak digunakan secara gratis. Tetap saja ada anggaran yang  harus dikeluarkan tergantung pada jumlah penggunaannya. Dan terkadang hal ini menjadi salah satu anggaran yang dapat dikatakan boros biaya. Namun kemampuan manusia tidak pernah berhenti meneliti, membuat dan mengembangkan tekhnologi  baru yang dapat menguntungkan semua pihak. Salah satunya memanfaatkan matahari sebagai sumber tenaga listrik pengganti, atau disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu aternatif dalam penghematan biaya listrik.

Lalu apa itu PLTS? PLTS adalah salah aplikasi penggunaan tenaga surya yang dirubah menjadi sumber energy listrik dengan memanfaatkan teknologi sel surya agar menghasilkan energi listrik. Selain PLTS, nama lain yang kerap digunakan dalam teknologi listrik yang satu ini adalah listrik surya sistem panel surya, sistem fotovoltaik dan solar panel system. Untuk membangkitkan listrik dengan panel surya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung menggunakan fotovoltaik dan cara tidak langsung yaitu dengan pemusatan energi surya. Berikut adalah penjelasannya.

Fotovoltaik


Sel fotovoltaik atau sel surya merupakan alat yang dapat mengubah energi cahaya menjadi energi listrik dengan menggunakan efek fotoelektrik. Pembangkit listrik tenaga surya ini adalah pembangkit listrik yang menggunakan perbedaan tegangan yang diakibatkan oleh efek fotoelektrik untuk menghasilkan listrik.

Solar panel fotovoltaik terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan panel P pada bagian atas, lapisan pembatas tengah, dan juga lapisan panel  N pada bagian bawah. Pada efek fotoelektrik, elektron pada lapisan panel  P terlepas akibat sinar matahari, kemudian proton  mengalir pada bagian bawah yaitu lapisan panel N dan kemudian perpindahan arus proton tersebut merupakan bagian dari arus listrik.

Pemusatan Energy Surya


Consentrat  Solar  Power (CSP) atau sistem pemusatan energi merupakan cara kedua dari pembangkit listrik tenaga surya yang menggunakan lensa atau cermin dan juga sistem pelacak untuk memfokuskan energi matahari dari luasan pada area tertentu ke dalam satu titik.

Panas  yang terkonsontrasikan kemudian di gunakan sebagai sumber panas untuk pembangkitan listrik jenis biasa yang memanfaatkan panas agar dapat menggerakkan generator. Teknologi yang paling banyak dilakukan dalam sistem ini adalah sistem cermin parabola, menara surya, dan lensa reflektor.

Di Gurun Mojave terletak Ivanpah Solar Plant yang akan di jadikan sebagai pembangkit listrik tenaga surya dengan menggunakan tipe pemustan energi surya terbesar dengan daya  yang  mencapai  377 Mega Watt. Pembangunan ini merupakan salah satu bagian visi Barack Obama perihal program 10000 MW  energi terbaruka. Sehingga kegiatan ini pun didukung oleh pendanaan Amerika Serikat. Namun meskipun demikian, PLTS yang satu ini menuai kontroversi karena kegiatan ini di anggap akan mengancam keberadaan satwa liar yang ada disekitar gunung.

Sudahkah Indonesia menerapkan teknologi ini?


Pada sebagian tempat, teknologi ini sudah diterapkan,, seperti  di daerah Bali, Nusa Tenggara Barat, Alor (Nusa Tenggara Timur) dan Sulawesi Selatan. PLTS terbesar di Indonesia pun terletak di Pulau bali lebih tepatnya di daerah Karang asem dan Bangli dangan kapasitas 2x1 MW. Akan tetapi, Indonesia pun tidak menerapkan pembangkit listrik tenaga surya secara merata, berikut beberapa alasannya.

Pemanfaatan energi surya baru 0,05 persen dari potensi  yang ada Seperti  yang  di paparkan oleh Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Energi Terbaru kandan Konservasi Energi (EBTKE) Kementrian ESDM, M. Arifin, bahwa dari poetinsi  yang tersedia, pemanfaatannya baru sebesar 0,05 persen. Hal ini pun  memunculkan banyak sekali tantangan yang meski di selesaikan salah satunya biaya produksi  PLTS yang  masih tinggi.

Baca Juga

Belum lagi dengan kurangnya kemampuan SDM dalam hal penguasaan teknologi  PLTS dan PLTS pun tidak dapat di transporasikan.  Kebutuhan biaya investasi yang tinggi Sekurang-kurangnya dibutuhkan sekitar 26 miliar rupiah untuk setiap  1 MWp. Apa bila pembangkit listrik tenaga surya yang dibutuhkan adalah sekitar 5000 MW, maka dana inventasi  yang di perlukan adalah sekitar 165 triliun rupiah. Namun, Berbeda dengan biaya investasi, biaya operasional tidak terlalu membutuhkan biaya sebesar investasi.

Perkara pembebasan lahan Untuk menempatkan  panel  surya, dibutuhkan lahan yang luas. Sedangkan pembebasan lahan merupakan salah satu hal yang sangat sukar untuk dilakukan terutama pada area yang padat penduduk.

Nah itulah sekilas penjelasan mengenai pembangkit listrik tenaga surya, yang hingga saat ini masih langka digunakan dalam penggunaan sebagai sumber energi listrik meskipun teknologi panel surya ini memiliki manfaat yang begitu banyak, salah satunya menghemat biaya listrik tentunya. Bagaimana menurut Anda ?

Saturday, August 17, 2019 - tanpa komentar

0 komentar untuk artikel ini. Ingin berkomentar?

Emoticon Emoticon

Perlihatkan Semua Komentar Tutup Semua Komentar