Persoalan Pokok Pada Pembangkit Tenaga Listrik

Pembangkit Tenaga Listrik - Yang biasa digunakan pada suatu Sistem Tenaga Listrik (STL) pembangkit listrik terdiri dari pembangkit listrik tenaga air (Hydro plant atau PLTA) dan unit-unit thermal. Pembangkit-pembangkit itu sekarang ini umumnya sudah berhubungan satu dengan yang lainnya, atau yang sering disebut dengan interkoneksi. Sistem tenaga listrik (STL) yang terdiri dari unit PLTA dan sejumlah pusat listrik termis pembagian pembangkit antara subsistem hidro ( kelompok PLTA ), dan sub-sistem themal ( PLTU, PLTP, PLTG dan PLTGU ) agar di dapat operasi yang optimum bagi sistem tenaga listrik secara keseluruhan untuk mencapai biaya bahan bakar yang minimum. Pada pembangkit listrik harus dilakukan pengaturan pembebanan yang melayani beban tenaga listrik supaya tercapai operasi yang optimum.

Persoalan Pokok Pada Pembangkit Tenaga Listrik

Setelah beroperasi dalam waktu tertentu, maka dari pembangkit-pembangkit itu ada yang keluar dari sistem interkoneksi dan hal ini disebabkan karena ada unit pembangkit yang rusak dan tentunya perlu diperbaiki atau ubah, kedua karena ada pembangkit yang istirahat untuk keperluan pemeliharaan.
Salah satu contoh rencana pemeliharaan unit pembangkit adalah dengan menggunakan metode Levelized Resh dari Gaever. Tetapi, dalam aplikasinya harus dibagi dalam dua kriteria, yaitu pertama unit pembangkit bisa dikeluarkan tanpa adanya penyesuaian. Kedua unit pembangkit yang dikeluarkan harus diatur dalam kurun waktu yang terbatas.

Demikian itu berarti pada waktu tertentu ada unit pembangkit yang keluar dari sistem, sehingga akan menimbulkan perubahan pada biaya produksi. Tapi setelah habis masa pemeliharaan (overhaul) harus dilakukan evaluasi koefisien ongkos pembebanan hal ini dilakukan untuk memperoleh akurasi yang baik.

Kemudian, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimumkan ongkos tapi memenuhi tingkat sekuriti. Biasanya pada operasi pembangkit thermal biaya yang dihitung hanyalah biaya bahan bakar, hal ini karena komponen biaya yang lainnya dinaggap konstan. Jadi, kalau saja bisa dihemat penggunaan bahan bakar, maka pengeluaran biaya pada pengoprasian sistem tenaga listrik bisa dikurangi. Sementara itu beban yang akan dilayaninya berubah-ubah menurut waktu, biaya operasi sistem tenaga listrik merupakan tujuan yang akan diminimalkan jadi yang penting adalah bagaimana dalam operasi pembangkit hidro-thermal bisa dihemat penggunaan bahan bakar. 

Setting Kapasitas Pembangkit 


a) Unit Pembangkit Hidro: tentukan tipe unit pembangkit, masukkan kode unit pembangkit, masukkan deskripsi unit pembangkit, masukkan nilai pmax dan pmin unit pembangkit, masukkan jenis pembebanan unit pembangkit.
b) Unit Pembangkit Themal: Masukkan kode unit pembangkit, Tentukakan jenis unit pembangkit thermal, Masukkan Deskripsi unit pembangkit, Masukkan nilai Pmax dan Pmin unit pembangkit,
Tentukan jenis bahan bakar yang digunakan, Tentukan biaya operasi unit pembangkit, Masukkan jenis pembebanan unit pembangkit.


Kemudian dengan menggunakan metode dynamic programing dapat dicari alternatif pembebanan hidro thermal yang optimum. Sedangkan kemampuan pembangkit thermal dapat diketahui dengan menggunakan effective capability dari Gaever :

C" = C - M In (1-r+r.Cc/m)

Di mana :
C" = Effective capability (MW)
C = Installed capacity
M = System characteristic
r = FOR (forced outage rate)

Dan untuk pembangkit hidro kemampuan maximun bisa diketehui dari model operasi dan situasi air.

Kesimpulan


Itulah penjelasan tentang Persoalan Pokok Pada Pembangkit Tenaga Listrik. Yang terpenting dari persoalan listrik adalah bagaimana dalam operasi pembangkit hidro-thermal itu bisa dihemat penggunaan bahan bakar. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Wednesday, March 28, 2018 - tanpa komentar

0 komentar untuk artikel ini. Ingin berkomentar?

Emoticon Emoticon

Perlihatkan Semua Komentar Tutup Semua Komentar